Harianpauh.com
2020/05/12 20:40Ikuti
Padang – HARIANPAUH.COM

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, menyampaikan kekuatan testing, tracking, isolasi, dan treatment yang dilakukan di Sumbar bersama dukungan dari para bupati dan wali kota untuk menangani pandemi Covid-19.
“Di Sumatera Barat, terakhir data data kemarin 299 yang positif. Namun demikian dari 299 positif ini, 72% adalah ODP dan OTG. Jadi sisanya 27 koma sekian itu adalah PDP. Dari 299 yang positif itu sebenarnya tanggal 22 April, mulai pertama PSBB di Sumatera Barat yang pertama, tidak ada lagi yang impor,” ujar Gubernur Sumbar saat memberikan keterangan, Selasa (12/5).
Jadi, katanya kasusnya tidak ada lagi impor sejak tanggal 22 April, impor itu datang dari luar Sumatra Barat. Sementara itu, awalnya semuanya impor dari pendatang dan jumlahnya hampir 40.
“Semenjak PSBB 22 April adanya larangan mudik 24 April sesuai Permenhub No. 25 Tahun 2020, dianggap cukup efektif dalam artian tidak muncul lagi impor positif dari luar Sumatera Barat,” imbuh Irwan Prayitno.
Provinsi Sumbar, menurut Gubernur, melaksanakan sesuai dengan arahan Presiden, sebagai berikut:
Pertama, melakukan testing secara dini, cepat dan itu sudah dilakukan di Fakultas Kedokteran Unand, laboratorium semenjak tanggal 23 Maret sampai saat ini kita sudah lebih dari 9.000 spesimen yang kita periksa di lab.
“Dan 1 hari pun bisa sampai lebih 758 spesimen dan rata-rata bisa 300 spesimen. Dan kita 2 minggu terakhir bahkan hampir 3 minggu kita sudah masuk ke ODP-OTG dan perantau datang 20 hari, selama 20 hari,” urainya.
Jadi, menurut Gubernur Sumbar, PDP dalam waktu 6 jam itu insyaallah sudah keluar hasilnya dan itu sudah ada di rumah sakit, kalau positif langsung di-tracking yang terpapar.
Kedua, melakukan tracking masif.
“Jadi tracking masif ini kami bersama bupati dan wali kota melakukantracking masif ini, sehingga 1 yang positif itu bisa minimal 50 spesimen swab yang diambil bahkan sampai 500. Sehingga demikian bisa terkendali mereka-mereka yang terpapar dari yang positif tersebut, dan dari situ kita bertindak cepat untuk melakukan pengendalian dan pemutusan transmisi terhadap yang positif yang kita ketahui cepat tersebut,” jelas Irwan.
Ketiga, langkah isolasi.
“Isolasi ini tentu mereka yang sudah terpapar itu kita isolasi, kita siapkan tempatnya di karantina-karantina provinsi dan kota/kabupaten. Selama itu kita langsung hari pertama masuk di swab dan kemudian hari ke-2 dan ke-3 di swab yang ke-2,” papar Gubernur Sumbar.
Keempat, adanya treatment.
“Nah ini treatment yang kita lakukan alhamdulillah tingkat kesembuhan kita meningkat, mungkin minggu depan akan semakin banyak karena Covid ringan yang banyak dengan perawatan di karantina pun sudah bisa mencukupi,” ujarnya.
Sebagai informasi, lanjut Gubernur Sumbar, bahwa dari 19 kota/kabupaten, masih 3 yang negatif, yaitu Sawahlunto, Sijunjung, dan Kota Solok.
“Dan kemudian yang sudah mulai menurun yaitu Pesisir Selatan, Dharmasraya, Pasaman Barat, Pasaman Timur, dan kemudian Pariaman. Dan kemudian yang sedang berjuang tapi berbagai klasternya sudah mulai terputus yaitu antara lain Kota Padang,” urainya.
Kota Padang ini, menurut Gubernur Sumbar, dari sekitar 15-16 klaster, 8 sudah terputus, sisanya itu mungkin masih bentuknya beberapa rumah yang berkembang sedikit keluar.
“Kemudian yang menjadi episentrum ada 2 titik setidaknya Pasar Raya dan Pegambiran. Ini pun oleh wali kotanya luar biasa, di-tracking sampai lebih 1.000 yang diambil spesimennya. Ini upaya-upaya yang kita lakukan. Dan kemudian di Payakumbuh dan Agam ini 1 klaster,” katanya.
Padang Panjang dan Tanah Datar ini, lanjut Gubernur Sumbar, satu klaster yang kemudian berkembang, saat ini pun sebetulnya sudah mulai menurun, landai, tidak muncul lagi yang positif secara signifikan.
Kekuatan di PSBB dengan pembatasan ini, menurut Gubernur Sumbar, tentu merupakan pencegahan agar tidak terpapar di luar dan tetap terisolasi di rumah, untuk mengurangi keluar dan tetap di rumah.(*)


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.